Musik sebagai Mesin Waktu, oleh Bias Adinata

Rabu, 25 Desember 2013

Musik sebagai Mesin Waktu 2

Mengutip dari penyair Jerman, Goethe pernah berkata bahwa “orang yang tidak dapat belajar dari masa tiga ribu tahun berarti dia tidak memanfaatkan akalnya” yang katanya, itulah jalan satu-satunya menjadi manusia. Sekarang  kita tidak melompat sampai ke ribuan tahun yang lalu untuk menjadi manusia akan tetapi kita melompat ke belakang keabad 18-19 dimana Nusantara masih diduduki oleh Belanda.

Seperti yang saya ungkapkan dalam artikel sebelumnya, saya akan bercerita tentang musik jaman Hindia Belanda. Komponis-komponis besar yang kita tahu, seperti seperti Debussy, Ravel, Xenakis, John Cage, Steve Reich sampai Bill Kanengiser yang memiliki kekaguman terhadap Gamelan yang dapat kita dengar dari beberapa karya-karya mereka.

Ternyata terdapat pula komponis-komponis didalam sejarah Indonesia jaman penjajahan Belanda yang memadukan musik klasik barat dengan gamelan Jawa dengan cukup otentik.

Adalah seorang pianis dan antropolog bernama Henk Mak Van Dijk yang memaparkan tentang sejarah musik Hindia-Belanda ini di dalam bukunya “Wajang Foxtrot” yang terbit pada tahun 2011 di Belanda. Henk Mak Van Dijk yang kala itu saya temui di Yogyakartabercerita tentang Wajang Foxtrot yang berisi tak hanya komponis-komponis klasik jaman Hindia Belanda, dalam buku ini juga diungkap tentang kehidupan musik jaman Hindia-Belanda, orkestra simfoni pertama,  kroncong, musik kemiliteran saat menjajah Aceh dan Lombok, Opera Jawa Attima, Hiburan rakyat Belanda  hingga Kabaret.

Kita kerap membaca tentang sejarah jaman penjajahan belanda, tapi jarang sekali kita tau bagaimana kehidupan musik dijaman itu.

Seperti misalnya Constant Van De Wall komponis Indo kelahiran Surabaya 142 tahun silam ini yang besar di Semarang, banyak menghasilkan karya-karya yang selalu bernafaskan gamelan jawa, bisa anda dengar dan nilai sendiri salah satu karyanya yang dimainkan Live oleh Henk Mak Van Dijk di youtube (search : Constant van de Wall Rhapsodie javanaise ).

Mendengarkan karya musik ini terasa sekali percampuran budaya antara klasik barat dan gamelan Jawa dengan halus dan tanpa terasa memaksa dan juga tidak menghilangkan unsur keduanya. Hal ini dimungkinkan karena pengetahuannya akan gamelan yang mendalam.

Tak hanya  berkarya dalam piano tunggal Constant Van De Wall  juga menciptakan Opera yang berjudul Attima yang bercerita tentang kehidupan penari Jawa. yang pada tanggal 23-28 Mei 2008 yang lalu dipentaskan kembali di Belanda.

Lalu terdapat komponis yang lebih purist dalam menyikapi musik timur jauh ini, berbeda dengan Constant Van de Wall yang yang lebih mementingkan penciptaan, yaitu Paul Seelig (1876-1945) Selama delapan tahun di Solo, dia menghabiskan waktunya dengan mengadakan penelitian mendalam tentang musik Timur.

Sesudah ayahnya meninggal, dia menetap di Bandung, untuk mengambil alih pimpinan toko musik dan alat-alat musik, dan kantor penerbitan (Matatani) yang telah didirikan oleh ayahnya. Tetapi dia masih senang bepergian. Akhirnya dia berangkat ke Thailand.

Di zaman itu dia mencatat banyak lagu-lagu Thailand yang didengarnya sendiri pada saat dinyanyikan oleh rakyat, dan dia telah menggubah pula lagu kebangsaan Thailand. Sesudah itu dia menerbitkan sekumpulan besar lagu-lagu yang telah dicatatnya pada dinyanyikan para penyanyi pribumi dari Jawa Tengah. Gubahan-gubahan Seelig menunjukkan gabungan yang sangat menarik antara unsur-unsur Timur dan Barat; sebuah struktur selalu menunjukkan keahlian pembuatnya.

Beberapa karya Paul Seelig dinyanyikan kembali oleh Bernadeta Astari soprano Indonesia pertama yang tampil di Concertgebouw yaitu nomor-nomor tembang sunda seperti Sinom, Kinanti, dan dandang gula miring.

Akan tetapi memang kedua komponis diatas tidak terlalu dikenal di Belanda dan apalagi di Indonesia maupun dunia. Karena komponis hindia ini berdarah indo (campuran Belanda Indonesia) yang berkulit agak coklat sehingga tidak terlalu digubris oleh orang-orang Belanda yang dulu cenderung rasis, menurut penjelasan Henk Mak van Dijk sendiri waktu saya wawancarai.

Lain daripada itu terdapat pula musik-musik entertainment salah satu yang menarik perhatian saya yaitu karya yang dinyanyikan oleh Willy Derby yang berjudul Hallo! Bandoeng!. Lagu ini diciptakan pada saat hubungan telepon Belanda dengan Hindia-Belanda (Indonesia) mulai beroperasi. Penyanyi yang kerap  menyanyikan lagu-lagu gubahan Jacques van Tol yang berisikan anti terhadap Jerman ini melakukan sejumlah tour di Hindia-Belanda pada tahun 1931 dan segera memperoleh kepopuleran di daerah kolonial ini dengan membawakan nomor-nomor yang popular di Hindia-Belanda seperti letter from India, slamat tidoer dan tentu saja Hallo!Bandoeng!

Mencontek kata-kata Joss Wibisono dalam tulisannya “gamelan dan musik klassik” Sejarah komponis Indisch, sedikit banyak juga merupakan sejarah musik Indonesia.

Rujukan :

http://www.dutchrecordcompany.nl/index.php?164

paulusdwihananto.edublogs.org/files/…/

https://makvandijk.wordpress.com/2013/08/25/wajang-foxtrot-indie-in-klank-en-beeld-1890-1945/

MUSIK (DI) INDONESIA

MENUNGGU BERBUAHNYA BERBAGAI POTENSI

-Artikel asli dimuat di majalah TAPIAN edisi Juli 2008.-

Oleh Serrano Sianturi

http://gatholotjo.wordpress.com/2011/10/09/gamelan-dan-musik-klasik-oleh-joss-wibisono/

http://iml.nederlandsmuziekinstituut.nl/index.php?lang=23&dept=83&article=126

http://www.historici.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn5/diepen_w

Buku Wajang Foxtrot

Diposkan oleh Bias Adinata di 05.22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s